Kehidupan masyarakat sangat kental dengan nuansa keagaman, namun sering terjadi kesalahan dalam memahami agama dan kepercayaan, serta imannya. Banyak orang bersikap eksklusif terhadap agama dan kepercayaannya, bahkan memutlakkan agama dan kepercayaan serta imannya sendiri. Kenyataan yang terjadi adalah semangat komunalisme, yakni semangat memutlakkan ajaran agama dan kepercayaannya sendiri, dan menyalahkan bahkan memusuhi agama dan kepercayaan orang lain. selain itu, banyak terjadi bahwa agama dan kepercayaan serta iman digalang menjadi kekuatan politik untuk menguasai, menekan, mendiskriminasikan, menghambat perkembangan, bahkan melenyapkan agama dan kepercayaan serta iman yang berbeda. Hal ini justru malah tidak menciptakan keharmonisan dan kebahagiaan bersama.
Padahal yang diharapkan dan dicita-citakan adalah semua umat beragama dan berkepercayaan, sebagai umat beriman, seharusnya hidup berdampingan, saling menghormati, dan saling menghargai. Sebagaimana yang diyakini seorang beriman inklusif bahwa ajaran yang ada dalam kitab suci agama dan kitab ajaran kepercayaan selalu ditangkap sebagai ajaran yang mengajak orang untuk hidup rukun dan damai. Sebenarnya iman itu berfungsi untuk membangun orang untuk semakin berkualitas hidupnya, sehingga dapat menciptakan kerukunan dan kedamaian. Dengan demikian, dikatakan sebagai orang beriman kalau diri dan hidupnya mampu menciptakan kerukunan dan kedamaian dalam hidup bersama dengan orang lain, yang berbeda dalam segalanya. Apabila orang beriman tidak mengusahakan kerukunan dan kedamaian, sebenarnya orang itu mengingkari imannya sendiri. Mengusahakan kerukunan dan kedamaian, hidup tanpa permusuhan dan tanpa kekerasan, merupakan hal yang hakiki dalam penghayatan iman, karena semua agama dan kepercayaan mengajarkan bahwa hidup rukun dan damai merupakan kehendak Tuhan. Artinya, semua orang merasa dihargai, dihormati, diterima, dan memiliki martabat yang sama dihadapan Sang Pencipta.
Anda sangat mudah dipengaruhi dengan situasi dan semangat eksklusivisme agama dan kepercayaan. Anda cenderung bersahabat dengan teman yang memiliki agama dan kepercayaan serta iman yang sama, sehingga kurang menghargai dan menghormati teman yang beragama dan berkepercayaan berbeda. Misalnya ketika terjadi perkelahian, anda tidak berpikir panjang tentang benar atau salah, yang terjadi adalah anda membela teman yang seagama dan sekepercayaan, sebagai "tanda solidaritas", meski kenyataannya teman anda yang bersalah.
Setelah membaca artikel ini, saya harap anda semakin memahami bahwa pada dasarnya setiap orang beriman harus mengusahakan hidup damai di dunia ini, bersama dengan saudara-saudara yang berbeda agama dan kepercayaan.
Dalam Kristiani, kita percaya bahwa Allah Bapa berbuat baik kepada siapapun sebab semua adalah anak-anak-Nya. Jika semua orang memiliki moral yang baik, tidak kita temukan hal-hal yang melenceng dari ketentuan-ketentuan yang sebenarnya. Apabila kita lihat ajaran moral Konghucu, ada hubungan harmonis antara manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan alam. Begitu pula dalam ajaran agama Hindu yang tertuang dalam Yajur Weda 36.17 "Damai di langit, damai di angkasa, damai di bumi, damai di air, damai pada tetumbuhan, damai pada semua Dewa, damai pada Brahmana, damai dalam alam semesta, damai dalam kedamaian. Semoga kami mendapat kedamaian itu". Budha juga menggariskan etika sosial atas dasar persaudaraan sosial, serta harus terus menerus mendorong manusia untuk mengembangkan tenggang rasa sosial, agar dapat hidup berdampingan secara damai dan sejahtera. Nabi Muhammad SAW pun selalu berusaha agar persaudaraan sesama umat Islam (ukhuwah islamiyah) terwujud, demikian pula antara umat Islam dan non Islam. Perdamaian akan terwujud apabila umat-umat yang berbeda agama itu hidup rukun.
Semoga solidaritas antar agama semakin bagus di negara ini. God bless indonesia.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusArtikel yg menginspirasi
BalasHapusArtikel yang bagus
BalasHapusSOlidaritas n harmonisme harus semakin maju di Indonesia ini
BalasHapuskeep writing okeey
nice article
BalasHapusnice article
BalasHapusnice article
BalasHapus